Unknown

Masa Abbasiyah dimulai dengan berdirinya daulah Abasiyah dan diakhiri dengan jatuhnya Baghdad ke tangan Turki pada tahun 656 H(750 – 1258 M). Di Memiliki dua tahap, yakni Abbasiy satu dan Abbasiy dua. Abbasiy satu dimulai sejak tahun 132-334 H.

1.      Sastra di Masa Abbasiyah Awal
Pada zaman Abbasiyyah yang terkenal dengan zaman kebangkitan ilmu pengetahuan, kata Adab mempunyai arti at-Tahdzibu wa at-Ta'liimu ma'an (pendidikan sekaligus pengajaran), atau berarti semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan umat manusia dan juga tata cara yang perlu diikuti dalam suatu disiplin tertentu. Arti "Adab" pada masa ini lebih mengacu pada kebudayaan. Seperti yang pernah ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (wafat 142 H.) dalam bukunya yang berhudul al-Adab al-Kabir yang berisikan kumpulan-kumpulan surat-surat panjang Ibn al-Muqaffa' yang terbagi menjadi dua bagian yaitu khusus mengenai sultan, politik, dan pemerintahannya, dan yang berhubungan dengan persahabatan dan sejenisnya. Dan al-Adab al-Shaqir yang berisikan surat-surat pendek Ibn al-Muqaffa' yang berisi kumpulan wasiat mengenai budi pekerti, kemasyarakatan, dan mengenai apa yang harus dipersiapkan oleh manusia dalam kehidupannya seperti bagaimana bergaul dengan atasan, bawahan, dan sesamanya. Selain itu, kata "Adab" telah meluas artinya dan sering diterapkan pada puisi, prosa, peribahasa, dan balaghah, juga diterapkan pada bidang ilmu nahwu, sharf, ushul, dan sebagainya.
Ø  Kebangkitan Sastra dan Faktor-faktornya[1]
Di masa ini sastra berkembang pesat karena dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, antara lain:
a.       Kemampuan para kholifahnya dalam hal syi’ir
b.      Percampuran yang begitu kuat antar anak umat dan munculnya gerakan baru yang memiliki keistimewaan bersifat akal
c.       Kebudayaan yang luas dengan jalan tarjamah dan adanya majelis-majelis ilmu dan sastra
2.      Faktor Perkembangan Sastra
1. Politik
          Ketika Daulah Abasiyah naik ke tampuk kekuasaan tertinggi islam, terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat dan pada porsi tertentu antara politik dan sastra saling mempengaruhi. Pergeseran paling fundamental terjadi ketika pusat kekuasaaan dipindahkan dari Damaskus dengan tradisi arab kental ke Baghdad dengan tradisi Parsinya. Pada masa ini seluruh sistem pemerintahan dan kekuasaan politik dipengaruhi tabiat peradaban Sasaniyah Parsi dimana khalifah berkuasa mutlak dan memimpin seluruh struktur pemerintahan mulai dari mentri, pengadilan, sampai panglima prajurit.
          Pucuk kekuasaanpun tidak lagi terbatas pada garis keturunan arab, bahkan disebutkan dalam berbagai literatur sejarah bagimana dahsyatnya fitnah di saat terjadi persaingan kekuasaan antara dua bersaudara al Amien dan al Makmun karena berbeda garis keturunan dari ibu mereka. Kondisi politik seperti ini sangat mungkin memepengaruhi perkembangan aktivitas sastra ketika itu, karena kita tidak bisa nafikan para syu'ra adalah orang terdekat khalifah di lingkungan istana setelah menteri dan struktur pemerintah lainnya.  

2. Sosial masyarakat
          Di saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Umawiyah ke Abbasiyah, wilayah geografis dunia islam membentang dari timur ke barat, meliputi Mesir, Sudan, Syam, Jazirah Arab, Iraq, Parsi sampai ke Cina. Kondisi ini mengantarkan terjadinya interaksi intensif penduduk setiap daerah dengan daerah lainnya. Interaksi ini memungkinkan proses asimilasi budaya dan peradaban setiap daerah. Para petualang muslim berdatangan dari berbagai penjuru wilayah islam dengan menyerap kebudayaan dan keilmuwan dari daerah yang mereka kunjungi untuk kemudian menjadi rujukan dan bahan aktivitas keilmuwan di daerah mereka masing-masing.
          Majelis nyanyian dan musik menjadi tren dan style kehidupan bangsawan dan pemuka istana era Abbasiyah. Anak-anak khalifah diberikan les khusus supaya pintar dan cakap dalam mendendangkan suara mereka. Maestro dunia tarik suara terkenal bermunculan pada masa ini diantaranya Ibrahim bin Mahdi, Ibrahim al Mosuly dan anaknya Ishaq. Lingkungan istana berubah dan dipengaruhi nuansa Borjuis mulai dari pakaian, makanan, dan hadirnya pelayan-pelayan wanita. Dalam sebuah riwayat disebutkan Harun ar-Rasyid memiliki seribu pelayan wanita di istananya dengan berbagai keahlian.
          Pengaruh budaya dengan nuansa jahiliyah seperti ini berkembang tidak di seluruh negri tapi hanya di lingkungan istana dan petinggi-petinggi negara, adapun masyarakat umum berada dalam beragam kondisi perubahan sosial, bahkan dari kelas masyarakat umum muncul gerakan menentang perilaku dan tradisi jahili yang berkembang di lingkungan istana dikenal dengan nama "Harakah az Zuhd".
      
3. Dunia intelektual dan pengetahuan
          Faktor lain berkembangnya peradaban di era Abbasiyah ditandai dengan derasnya aktivitas intelektual masyarakat islam. Kegiatan intelektual menjadi makanan rutin Akal dan hati masyarakat. Kondisi ini dipengaruhi terbukanya pintu intelektual islam dengan masyarakat dunia lainnya. Kerajaan sangat bersemangat dalam menyokong semua aktivitas penterjemahan literatur asing ke Bahasa Arab, seperti yang dikatakan al Mas'udi," Abu Ja'far al Mansur adalah khalifah pertama menggiatkan aktivitas astronomi dan menetapkan kegiatan kerja kerajaan mengacu pada hukum-hukum astronomi. Abu Ja'far al Mansur juga khalifah pertama yang menerjemahkan literatur asing ke bahasa Arab diantaranya karya-karya Aristoteles, buku Sanad India dan berbagai literatur lainnya.
          Darul Hikmah di masa harun ar Rasyid telah menjadi pustaka dunia dengan menyimpan beribu-ribu literatur asing Romawi, Yunani, Parsi dan India kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kemajuan ini diikuti dengan lahirnya ribuan Ulama dan sastrawan. Baghdad berubah menjadi mercusuar peradaban dan tujuan cendikiawan serta pencari ilmu dari seluruh pelosok negri. Kita kenal Khalil bin Ahmad al Farahidy sebagai peletak pertama Mu'jam Lughawy dengan kitabnya al 'Ain. Dalam ilmu Fiqh, lahir Abu Hanifah, Malik bin Anas, as Syafii, dan Ahmad bin Hanbal.  Dalam kajian sejarah, Ibnu Sa'd dengan karyanya at Tabaqat al Qubra, Akhbar al Khulafa'.      
Faktor politik, sosial dan arus intelektualisme yang tumbuh dan berkembang pesat sudah tentu mempengaruhi aspek-aspek penting dalam kehidupan sastra masa itu. Khusus dalam Syair, setidaknya dikenal dalam literatur Adab Abasiyah bermacam-macam agraad (tujuan/orientasi) syair, seperti al Madah (pujian), al Hija' (sindiran), al Fakhr (pengagungan), ar Rasa' (ratapan), al Ghazal (rayuan), al Wasfy (pensifatan), az Zuhd (zuhud), al 'Itab wa al 'Itizar (teguran dan pembelaan), as Syi'ry al Ta'limy (sya'ir pengajaran), as Syi'ry al Fakahy (sya'ir humor). Pengaruh kebudayaan asing yang hadir dan masuk dalam sastra arab diantaranya buku al Maydan karya Ulan as Sya'uby al Faris, sebuah karya sastra hasil asimilasi dua peradaban besar Arab dan parsi.
Diantara Syu'ara' terkenal yang dilahirkan dari rahim peradaban besar ketika itu diantaranya Basyar bin Bard, Abu Nawas, Marwan bin Abi Hafshah, Abu 'Atahiyah, Muslim bin Walid, Abdullah bin Marwan bin Zaidah, Muhammad bin Hazim al Bahily dan ribuan sastrawan lainnya.
Lingkungan sosial dan intelektual dinamis dalam peradaban dan khazanah keilmuwan islam telah mengantarkan perkembangan pesat dalam dunia sastra, tidak saja Syair yang menjadi konsen aktivitas sastra namun juga seni retorika dalam pidato kenegaraan maupun khutbah Jumat. Pendeknya semua aktivitas intelektual mendapatkan posisi strategis dan berkembang sangat baik dan dinamis pada masa itu.

3.      Fungsi syair masa abbasi
a.       Di medan pertempuran
Penyairnya: habib ibn Aus ath- Thoi yang dikenal dengan nama abu tamam. Contoh: السيف أصدق أنباء من الكتب  في حده الحد بين الجد و اللعب
b.      Mensifati
Penyairnya: Abu ‘Ubadah al- Walid yang masyhur dengan nama: Buhturi. Contoh: أتاك الربيع الطلق يختال ضاحكا  من الحسن حتى كاد أن يتكلما
c.       Cinta
Penyairnya: Abbas Ibn Ahnaf.
Contoh: أزين نساء العالمين أجيبي  دعاء مشوق   بالعراق غريب
d.      Menceritakan Kezuhudan
Penyairnya: Isma’il Ibn al- Qasim, masyhur dengan Abu al- ‘Atahiyah.
Contoh: يا نفس قد أزف الرحيل   وأظلك الخطب الجليل 
e.       Memuji Pedang Daulah
Penyairnya: Abu Thoyyib Ahmad Ibn Husain, masyhur dengan nama Mutanabbi. Contoh:  على قدر أهل العزم تأتي العزائم   و تأتي على قدر ا؄كرام المكارم
f.       Angan-angan tentang hidup dan mati
Tokohnya: Abu al-‘Ala Ahmad Ibn ‘Abdillah al- Ma’arriyy. Contoh:
غير مجد في ملتي واعتقادي   نوح باك ولا ترنم شاد
وشبيه صوت النعي إذا قيس   بصوت البشير في كل ناد
أبكت  تلككم الحمامة أم غنت   على فرع غصنها المياد
صاح، هذي قبورنا تملأ الرحب    فأين القبور من عهد عاد؟
خفف الوطاء، ما أظن أديم ال   أرض الإمن هذه الأجساد
سر إن اسطعت في الهواء رويدا   لااختيالا على رفات العبادت
وقبيح بنا وإن قدم العهد   هوان   الاباء   والأجداد
رب لحد قد صار لحدا مرارا   ضاحك من تزاحم الأضداد

4.      Contoh prosa di Masa Abbasi
Prosa tentang peraturan dalam bekerja
Tokohnya: Abdullah Ibn Muqaffa’.
إذا تراكمت عليك الأعمال، فلا تلتمس الروح في مدافعتها يوما بيوم، والروغان منها، فإنه لا راحة لك إلا في إصدارها، وإن الصبر عليها هو الذي يخففها عنك، والضجر هو الذي يراكمها عليك.
فتعهد من ذلك في نفسك خصلة قد رأيتها تعتري بعض أصحات الأعمال، وذلك أن الرجل يكون في أمر من أمره، فيرد عليه شغل اخر، أو يأتيه شاغل من الناس يكره إيتائه فيكدر ذلك بنفسه تكديرا يفسد ما كان فيه وما ورد عليه حتى لا يحكم واحدا منها
فإذا ورد عليك مثل ذلك، فليكن معك رأيك و عقلك، اللذان بهما تختار الأمور ثم اختر الأولى الأمرين بشغلك، فاشتغل به حتى تفرغ منه، ولا يعظمن عليك فوت ما فات، أو تأخير ما تأخر.
 




Tujuan bahasa masa abbasi
Lafadz dan uslub sastra masa abbasi
Prosa masa abbasi






[1]       الأدب و النصوص لغير الناطقين بالعربية: 191
0 Responses

Posting Komentar